Minumlah Jika Kamu Haus

Jumat, 21 Februari 2014

Jumat, Februari 21, 2014 | by Sidik Nuryusupiandi | | No comments




A. Riwayat Hidup Plato
Plato dilahirkan di Athena tahun 427 SM dan meninggal disana pada tahun 347SM dalam usia 80 tahun. Ia berasal dari keluarga Aristoteles yang turun temurun memegang peranan politik Athena. Sejak muda, ia bercita-cita ingin menjadi pejabat negara. Akan tetapi, perkembangan politik pada masanya tidak memberi kesempatan kepadanya untuk mengikuti jalan hidup yang diinginkannya itu.
Nama asalnya adalah Aristokles, guru senamnya kemudian memberi nama Plato. Ia memperoleh nama baru itu karena bahunya yang lebar, sepadan dengan bahunya yang tinggi dan tegap. Raut mukanya, potongan tubuhnya, serta perasaannya yang elok serasi dengan ciptaan yang klasik tentang manusia yang tampan. Tubuh Plato benar-benar ideal, bukan hanya tubuhnya, plato pun tergolong seorang pemuda yang cerdas pandangan matanya menunjukan seolah-olah ia mau mengisi dunia yang lahir ini dengan cita-citanya.
Sebagaimana hanya orang baik-baik pada masa itu,Plato mendapat didikan dari guru-guru filsafatnya. Pelajaran fisafat mula-mula diperolehnya dari Kratylos. Kratylos adalah murid Herakleitos yang mengajarkan “semua berlalu” seperti air. Rupanya ajaran semacam itu tidak hinggap di dalam kalbu anak Aristokrat yang terpengaruh oleh tradisi kluarganya.
Sejak berumur 20 tahun, plato mengikuti pelajaran sokrates hingga pada akhirnya Plato mempunyai kedudukan sebagai seorang filosof. Ia terkenal pandai menyatukan puisi, ilmu, seni dan filsafat. Gaya pikir Socrates sangat berpengaruh pada kehidupan Plato karena menurutnya Sokrates adalah orang yang jujur, adil, dan tidak pernah berbuat salah. Tak lama setelah Socrates meninggal, plato pergi ke Athena. Itulah permulaan dia mengembara 12 tahun lamanya (399-387 SM) mula-mula ia pergi ke Megara, tempat Eoklides mengajarkan filsafatnya kepada Plato. Dari Marga ia pergi ke kyrena untuk memperdalam pengetahuannya tentang Matematika kepada seorang guru besar bernama Theodoras. Disana dia juga mengajarkan filsafat dan mengarang buku-buku. Kemudian ia pergi ke Italia Selatan dan terus ke sirakisa  di Pulau Sisila, yang pada waktu itu diperintah oleh seorang tiran, bernama Dionysios. Disana Plato mengemukakan tentang filsafatnya tetapi Plato dituding sebagai ajaran yang membahayakan bagi kerajaan setelah itu Plato di perjual belikan sebagai budak. Karena sahabat-sahabat plato mengetahui Plato di perbudakan maka mereka mengumpulkan uang untuk menebusnya. Setelah itu Plato mendirikan sebuah sekolah yang bernama “Akademia”, disanalah sejak berumur 40 tahun dia mengajar filsafatnya dan mengarang tulisan-tulisan yang terkenal sepanjang masa.

B. Manusia Menurut Plato
            Menurut Protagoras bahwa manusia adalah ukuran dari segala-galanya tapi Plato menambahkan pendapat tersebut bahwa dari penglihatan saja tidak pernah tercapai pengetahuan, penglihatan saja tidak dapat membangun ilmu. Selain itu, harus ada pengetahuan dengan pengertian untuk mencapai kebenaran yang sebenar-benarnya, yang umum bagi segala orang. Pikiran dan pengalaman adalah dua macam tingkat yang berlainann dan nilainya pun berlainan. Dalam konsep Plato, dunia yang bertubuh dan dunia yang tidak bertubuh terpisah sama sekali. Ini kelanjutan dari pendapatmya tentang perbedaan pemikiran dan pandangan. Pengetahuan dengan pengertian hanya mengenal dunia yang ada dan tidak menjadi. Pandanag dan pengalaman mengenal dunia yang selalu menjadi.akan tetapi, dunia yang tidak bertubuh tidaklah semata-mata berdiri sendiri. Ada hubungannya dimana-mana dengan dunia yang tidak bertubuh, dunia idea, yang memberikan makna dan tujuan kepada dunia yang lahir.cotohnya pekerjaan saat pengrajin membuat suatu hal yang baru. Seorang pembuat barang-barang tembikar memadu tanah liat menjadi sebuah kendi. Tanah liat yang tidak berbentuk itu kemudian dibentuk sebuah kendi. Dari mana diperolehnya bentuk yang memberikan rupa kepada kendi itu? Pentuk itu tidak ada pada barang yang dikerjakannya. Tapi bentuk itu datang dari luar. Hal ini lebih nyata lagi pagda barang yang dibuat pertama kali. Contoh yang dapat ditiru belum kelihatan dalam dunia yang lahir. Pengrajin dapat membuatnya karena bangunan barang baru itu tertanam dalam kepalanyasebagai tiruan dari “bentuk “barang” asal yang berada dalam dunia yang tidak bertubuh (dunia idea). Jadi dapat dipahami bahwa filsfat idea menurut Plato pada hakikatnya menetapkan suatu filosofika tentang keberadaan yang ada. Tidak lain bahwa yang ada hanyalah alam idea, karena ia awal dari segala sesuatu, bagaimana ia ampu mencetak ganbaran-gambaran tentang berbagai bentuk. Gambaran yang dibuktikan dalam  sebuah karya nyata akan ditiru oleh manusia sepanjang zaman, tetap semuanya bukan bentuk yang sesungguhnya, karena yang paling nyata adalah alam idea sendiri. Perlu di perhatikan juga bahwa pengertian yang ada dalam dunia idea terbagi dua:
1.    Pengertian budi, yang dicari socrates dengan ketentuan normatif. Pengertian budi itu akan menentukan tujuan dan nilai penghidupan etik
2.    Pengertian matematik, yang dalam pengalaman tidak pernah dilaksanakan. Dalam pandangan tidak perah terdapat bangunan matematik yang sebenarnya. Bola yang diperbuat dengan alat tehnik yang sebaik-baiknya pun tidak sempurna., tidak sama besar dengan pengertian bola dalam matematik. Pembagian pengertian dalam dua golongan itu besar kelanjutannya dengan praktek hidup dan ilmu.

C. Ajaran Nilai Plato
Ajaran Plato tentang etika kurang lebih mengatakan bahwa, manusia dalam hidupnya mempunyai tujuan hidup yang baik, dan hidup yang baik ini dapat dicapai dalam suatu polis. Ia tetap memihak pada cita-cita Yunani Kuno yaitu hidup sebagai manusia serentak juga berarti hidup dalam bermasyarakat, ia menolak bahwa negara hanya berdasarkan nomos/adat kebiasaan saja dan bukan physis/kodrat. Plato tidak pernah ragu dalam keyakinannya bahwa manusia menurut kodratnya merupakan mahluk sosial, dengan demikian manusia menurut kodratnya hidup dalam polis atau Negara. Menurut Plato negara terbentuk atas dasar kepentingan yang bersifat ekonomis atau saling membutuhkan antara warganya maka terjadilah suatu spesialisasi bidang pekerjaan, sebab tidak semua orang bisa mengerjakaan semua pekerjaan dalam satu waktu. Polis atau negara ini dimungkinkan adanya perkembangan wilayah karena adanya pertambahan penduduk dan kebutuhanpun bertambah sehingga memungkinkan adanya perang dalam perluasan ini. Dalam menghadapi hal ini maka di setiap negara harus memiliki penjaga-penjaga yang harus dididik khusus.
Ada tiga golongan dalam negara yang baik, yaitu pertama, Golongan Penjaga yang tidak lain adalah para filusuf yang sudah mengetahui yang baik dan kepemimpinan dipercayakan pada mereka. Kedua, Pembantu atau Prajurit. Dan ketiga, Golongan pekerja atau petani yang menanggung kehidupan ekonomi bagi seluruh polis. Plato tidak begitu mementingkan adanya undang-undang dasar yang bersifat umum, sebab menurutnya keadaan itu terus berubah-ubah dan peraturan itu sulit disama-ratakan itu semua tergantung masyarakat yang ada di wilayah tersebut. Adapun negara yang diusulkan oleh Plato berbentuk demokrasi dengan monarkhi, karena jika hanya monarkhi maka akan terlalu banyak kelaliman, dan jika terlalu demokrasi maka akan terlalu banyak kebebasan, sehingga perlu diadakan penggabungan, dan negara ini berdasarkan pada pertanian bukan perdagangan. Hal ini dimaksudkan menghindari nasib yang terjadi di Athena. 



DAFTAR PUSTAKA
Hakim, Atang Abdul dan Beni Ahmad Saebank. 2008. Filsafat Umum. Bandung :
              Pustaka Setia.
 

Senin, 30 Desember 2013

Senin, Desember 30, 2013 | by Sidik Nuryusupiandi | | 2 comments
INSTITUT AGAMA ISLAM DARUSSALAM CIAMIS

1. Menurut pemahaman saudara setelah mempelajari strategi pembelajaran, coba analisa dan
    jelaskan peran strategi pembelajaran dalam sebuah proses pembelajaran!

2. “ No teaching strategy is better than others in all circumstances, so you have to be able to use a variety of teachings strategies, and make rational decisions about when each of teaching strategies is likely to most effective”. (Killen, 1998). Bagaimana tanggapan saudara atas pernyataan tersebut! Sertakan argumentasi yang jelas!
3. Menurut analisis saudara, mengapa pembelajaran membutuhkan sistem? Jelaskan!
4. Menurut analisis saudara, mengapa di dalam RPP terdapat komponen tujuan pembelajaran? Jelaskan pula perbedaan dan persamaan tujuan pembelajaran dan indikator pencapaian kompetensi!
5. Dalam penilaian berbasis kelas terdapat beberapa teknik peniliaian
yang dapat dipilih oleh seorang pendidik, coba uraikan teknik penilaian seperti apa yang sesuai untuk ranah afektif, kognitif dan psikomotorik!
6. Jelaskan persamaan dan perbedaan strategi pembelajaran inkuiri (SPI)
dan strategi pembelajaran berbasis masalah (SPBM)! Minimal dari 3 aspek!
7. Menurut analisis saudara, mengapa strategi pembelajaran kontekstual dapat diimplementasikan dalam pembelajaran mata pelajaran PAI di sekolah?
8. Menurut pemahaman saudara, seberapa pentingkah strategi pembelajaran afektif apabila dihubungkan dengan tujuan pendidikan nasional yang tercantum dalam UU Sisdiknas tahun 2003?
9. Menurut analisis saudara, jelaskan bagaimana keunggulan dankelemahan strategi pembelajaran deduktif apabila diterapkan pada mata pelajaran rumpun PAI!
10. Menurut analisis saudara, apakah semua strategi pembelajaran dapat diterapkan pada mata pelajaran PAI dan rumpunnya? Jelaskan disertai argumentasi yang jelas!

Sabtu, 28 Desember 2013

Sabtu, Desember 28, 2013 | by Sidik Nuryusupiandi | | No comments
Terlalu gegabah menuduh Hamka plagiat seperti meneriaki tukang copet di Senen. – HB Jassin


TENGGELAMNYA KAPAL VAN DER WIJCK
Catatan Ahmad Gaus

(Berikut adalah esai untuk mengenang Buya Hamka yang wafat pada tanggal 24 Juli 1981 dalam usia 73 tahun. Beliau almarhum adalah seorang ulama dan sekaligus sastrawan besar yang dimiliki bangsa kita. Selamat membaca).

ADA CERITA menarik dari Kutaraja (kini Banda Aceh). Setiap Rabu malam, orang-orang berkerumun di stasiun kereta menunggu kiriman majalah Pedoman Masjarakat yang terbit di Medan. Mereka bukan hanya agen penjual majalah itu, tapi juga ratusan pembaca yang tidak sabar ingin membaca kelanjutan kisah “Tenggelamnya Kapal Van der Wijck” yang dimuat di majalah itu secara bersambung pada 1938.1] Penulis cerita bersambung itu ialah Hamka, nama lengkapnya Haji Abdul Malik Karim Amrullah, yang juga pengasuh dan pendiri majalah mingguan Pedoman Masjarakat.
Hamka menuturkan bahwa ia mendapat banyak surat dari pembaca—atau tepatnya, penggemar—cerita Tenggelamnya Kapal Van der Wijck. Sebagian surat itu berisi pengungkapan kesan mereka setelah membaca kisah cinta tragis antara Zainuddin dan Hayati yang dikungkung adat dalam Tenggelamnya Kapal Van der Wijck. “Seakan-akan Tuan menceritakan nasibku sendiri,” tulis seorang pemuda dalam suratnya.2]
Berdasarkan masukan dari berbagai pihak, cerita bersambung itu akhirnya diterbitkan dalam bentuk novel dengan judul yang sama pada 1939. Hamka menulis novel itu berdasarkan kisah nyata tentang kapal Van Der Wijck yang berlayar dari pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, menuju Tanjung Priok, Jakarta, dan tenggelam di Laut Jawa, timur laut Semarang, pada 21 Oktober 1936. Peristiwa itu kemudian diabadikan dalam sebuah monumen bersejarah bernama Monumen Van Der Wijck yang dibangun pada tahun 1936 di Desa Brondong, Kecamatan Brondong, Kabupaten Lamongan, sebagai tanda terima kasih masyarakat Belanda kepada para nelayan yang telah banyak membantu saat kapal itu tenggelam. Dan Hamka mengabadikannya dalam sebuah novel.
van-der-wijck2
Walaupun peristiwa tenggelamnya kapal Van Der Wijck itu benar-benar terjadi, kisah yang ditulis Hamka dalam novel itu tentu saja fiksi belaka. Sebagaimana umumnya karya sastra yang baik dibangun di atas serpihan kejadian nyata, Hamka pun mengolah tragedi yang memilukan itu dalam kisah fiksi yang diberi badan peristiwa konkret dengan plot yang apik sehingga imajinasi pembacanya memiliki pijakan di dunia faktual. Karakter utamanya (Zainuddin, Hayati, dan Aziz) seolah pribadi-pribadi yang benar-benar hidup dan mewakili potret kaum muda pada masa itu ketika mereka berhadapan dengan arus perubahan sementara kakinya berpijak pada adat dan tradisi.
Kepiawaian Hamka dalam menyampaikan kritiknya atas tradisi boleh jadi melanjutkan kesuksesan pendahulunya Marah Rusli dalam roman Siti Nurbaya yang melegenda itu. Keduanya juga sama-sama berkisah tentang adat dan kawin paksa. Dan keduanya berujung kematian tokoh-tokoh utamanya. Bedanya, Siti Nurbaya menimbulkan dampak yang sangat kuat dan melintasi zaman karena ide ceritanya itu sendiri, sementara Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck melahirkan guncangan keras karena kontroversi yang menyertai ide cerita. Siti Nurbaya adalah kisah cinta di atas panggung tradisi. Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck juga kisah cinta yang sama namun sekaligus kisah tentang kesusastraan di pentas pertarungan politik. Belum pernah ada perdebatan yang begitu keras tentang sebuah novel melebihi karya Hamka ini. Novel ini dituduh sebagai plagiat dari novel Majdulin karya Mustofa Lutfi al Manfaluti (sastrawan Mesir), yang merupakan saduran dari novel Sous les Tilleuls (‘Di Bawah Pohon Tilia’) karya Alphonse Karr (sastrawan Prancis).3]
Sebagaimana novel Siti Nurbaya, novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck juga berkisah tentang cinta yang tak sampai. Tokoh utamanya, Zainuddin, adalah anak dari Pendekar Sutan yang diasingkan ke Cilacap karena membunuh mamaknya dalam sebuah perselisihan harta warisan. Setelah bebas ia pergi ke Makassar dan di kota ini menikah dengan Daeng Habibah. Dari pernikahan inilah lahir Zainuddin. Setelah orangtuanya meninggal, Zainuddin pergi ke Batipuh, Padang Panjang, yang merupakan kampung halaman ayahnya. Sayangnya, di sana ia tidak diperlakukan dengan baik karena dianggap bukan anak Minang. Maklum walaupun ayahnya seorang Minang, ibunya orang Bugis sehingga putuslah pertalian darah menurut garis matrilinear yang bernasabkan kepada ibu.
Sungguhpun begitu Zainuddin menjalin cinta dengan Hayati, gadis Minang yang prihatin terhadap nasibnya dan sering mencurahkan kesedihan hatinya kepada Hayati. Sebagai gadis keturunan bangsawan, tentu saja keluarga Hayati mencegahnya berhubungan dengan Zainuddin yang bukan orang Minang dan tidak jelas pula masa depannya. Keluarga Hayati memilih Aziz yang asli Minang dan berasal dari keluarga terpandang. Hayati harus tunduk pada kesepakatan keluarga, walaupun hatinya condong pada Zainuddin.
Zainuddin menganggap Hayati telah berkhianat. Akhirnya dengan membawa perasaan luka ia pergi ke Jakarta, kemudian pindah ke Surabaya. Sementara itu Hayati dan Aziz yang telah menikah juga pergi ke Surabaya dan tinggal di sini karena alasan pekerjaan. Tanpa sengaja, dalam suatu acara keduanya bertemu dengan Zainuddin yang telah menjadi orang sukses. Sedangkan kehidupan ekonomi Aziz dan Hayati semakin lama semakin memburuk. Aziz jatuh miskin sampai-sampai ia dan istrinya harus menumpang di rumah Zainuddin. Tak tahan menahan penderitaan, Aziz akhirnya bunuh diri dan sebelumnya meninggalkan pesan agar Zainuddin menjaga Hayati.
Zainuddin yang pernah dikhianati merasa sulit untuk menerima kembali Hayati. Perasaan cinta yang masih menyala dicoba untuk dipadamkan. Bahkan ia meminta Hayati untuk kembali ke kampung halaman di Batipuh, walaupun wanita itu merajuknya: “Tidak Hayati ! kau mesti pulang kembali ke Padang! Biarkan saya dalam keadaan begini. Pulanglah ke Minangkabau! Janganlah hendak ditumpang hidup saya , orang tak tentu asal ….Negeri Minangkabau beradat !…..Besok hari senin, ada Kapal berangkat dari Surabaya ke Tanjung Periuk, akan terus ke Padang! Kau boleh menumpang dengan kapal itu, ke kampungmu”. (hal. 198)
Hayati pun pulang dengan menumpang kapal Van Der Wijck. Namun nasib malang menimpanya. Kapal yang ditumpanginya tenggelam di Laut Jawa. Zainuddin yang mendengar berita itu langsung menuju rumah sakit di Tuban. Sayang nyawa Hayati tidak dapat diselamatkan. Sejak peristiwa itu Zainuddin sering mengalami sakit sampai akhirnya meninggal dan dimakamkan di samping pusara Hayati.
Ujung cerita tragis tampaknya menjadi pilihan untuk menyampaikan pesan bahwa cinta yang merupakan pangkal kebahagiaan seseorang sering dikorbankan demi martabat keluarga atau keturunan. Novel ini ditulis sebagai kritik terhadap beberapa tradisi dalam adat Minang saat itu yang tidak sesuai dengan dasar-dasar Islam ataupun akal budi yang sehat.4] Penulisnya sangat berwenang melakukan itu karena ia hidup dalam kumparan masa tersebut. Sehingga ia bukan hanya merekam sejarah, melainkan juga sang pelaku yang fasih dengan kultur masyarakat Minang dan perubahannya pada zaman itu.5]
Sejak awal novel ini diterbitkan berpindah dari satu penerbit ke penerbit lain. Mula-mula penerbit swasta, kemudian mulai tahun 1951 oleh Balai Pustaka. Lalu pada tahun 1961 oleh Penerbit Nusantara. Hingga tahun 1962 novel ini telah dicetak lebih dari 80 ribu eksemplar. Setelah itu penerbitannya diambilalih oleh Bulan Bintang.6] Tidak hanya di Indonesia, Van Der Wijck juga berkali-kali dicetak di Malaysia. Hingga kini novel ini terus dicetak, bahkan tahun ini (2013) novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck ini sedang dibuat film layar lebarnya.
Tenggelam3
Reaksi negatif dari sejumlah pembaca Muslim telah muncul saat pertama novel ini diterbitkan. Mereka menolak membacanya dan mengatakan bahwa seorang ulama tidak sepatutnya mengarang cerita tentang percintaan. Dalam sebuah tulisan di Pedoman Masyarakat No. 4 1938, Hamka seolah membela diri menyatakan bahwa tidak sedikit roman yang berpengaruh positif terhadap pembacanya seperti roman tahun 1920-an dan 1930-an yang mengupas adat kolot, pergaulan bebas, kawin paksa, poligami, dan bahaya pembedaan kelas.7]
Tidak berhenti di situ, Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck menghadapi batu sandungan lebih keras pada 1962, yakni 24 tahun sejak pertama diterbitkan. Seorang penulis bernama Abdullah SP membuat esai berjudul “Aku Mendakwa Hamka Plagiat” yang dimuat di Harian Bintang Timur 7 September 1962. Dalam esai itu ia menilai bahwa Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck ialah hasil jiplakan dari novel Magdalena karya sastrawan Mesir Mustafa Luthfi Al-Manfaluthi yang juga hasil saduran dari novel Sous les Tilleuls karya pengarang Prancis, Alphonse Karr.
Untuk membuktikan tuduhannya Abdullah SP membuat perbandingan dengan metode “idea-script” dan “idea-sketch” yang menjajarkan dua novel itu secara detail dalam bentuk tabel perbandingan. Metode perbandingan semacam ini baru pertama dilakukan sepanjang sejarah sastra Indonesia. Dan dari hasil perbandingan itu Abdullah SP menemukan banyak kemiripan, sehingga ia menuduh Hamka sebagai plagiator. Karuan saja tuduhan itu memicu polemik, lebih-lebih serangan terhadap Hamka tidak berhenti pada esai tersebut melainkan berlanjut dengan dibuatnya kolom khusus di Harian Bintang Timur yang berjudul “Varia Hamka” dalam lembaran kebudayaan Lentera yang diasuh oleh Pramoedya Ananta Toer.
Plagiat
Kasus ini terus bergulir menjadi polemik lantaran muncul pada era pertentangan ideologi yang cukup keras antara kubu seniman kiri Lekra versus kubu Manifes Kebudayaan. Para sastrawan Manifes Kebudayaan membela Hamka dari tuduhan para seniman Lekra. Kedudukan Hamka sebagai anggota Masyumi (Majelis Syuro Muslimin Indonesia), partai yang dilarang oleh Presiden Soekarno pada Agustus 1960, memperkeras polemik dan membawanya ke ranah politik—bukan semata polemik sastra. Lekra banyak menentang agama. Oleh sebab itu, Hamka yang merupakan ulama dianggap sebagai salah satu target penting.8] Kubu Abdullah SP (yang konon adalah nama samaran dari Pramoedya Ananta Toer sendiri) berhadapan dengan kubu HB Jassin bersama para sastrawan yang ikut membela Hamka yakni Anas Makruf, Ali Audah, Wiratmo Soekito, Asrul Sani, Rusjdi, Umar Junus, Soewardi Idris, dan lain-lain.
Serangan terhadap Hamka berlangsung berbulan-bulan “dengan bahasa yang sangat kasar dan tak layak sama sekali dimuat dalam ruang kebudayaan Lentera dan telah menjadi fitnah terhadap pribadi dan keluarga sastrawan tersebut.”9] Dalam sebuah pembelaannya terhadap Hamka, HB Jassin menulis bahwa Tenggelamnya Kapal Van der Wijck bukanlah karya plagiat. Menurutnya, yang disebut plagiat adalah pengambilan karangan orang lain sebagian atau seluruhnya dan membubuhkan nama sendiri seolah-olah kepunyaannya. Di samping plagiat, ada saduran, yaitu karangan yang jalan ceritanya dan bahan-bahannya diambil dari suatu karangan lain, misalnya cerita luar negeri disesuaikan dengan alam sendiri (Indonesia) dengan mengubah nama-nama dan suasananya. Saduran itu pun harus disebutkan nama pengarang aslinya. Selain “plagiat” dan “saduran”, ada juga “pengaruh”, yakni hasil ciptaan pengarang sendiri mendapat pengaruh pikiran atau filsafat pengarang lain, baik disengaja maupun tidak.
Jassin
Menurut HB Jassin dalam pengantar buku Manfaluthi yang kemudian diterjemahkan menjadi Magdalena (1963), memang antara dua novel itu terdapat ada kemiripan plot, pikiran-pikiran dan gagasan-gagasan yang mengingatkan kepada Magdalena, tetapi ada pengungkapan sendiri, pengalaman sendiri, permasalahan sendiri. Sekiranya ada niat pada Hamka untuk menyadur Magdalena Manfaluthi, lanjutnya, maka kepandaian Hamka melukiskan lingkungan masyarakat dan menggambarkan alam serta manusianya, kemahirannya melukiskan seluk-beluk adat istiadat serta keahliannya membentangkan latar belakang sejarah masyarakat Islam di Minangkabau, mengangkat ceritanya itu jadi ciptaan Hamka sendiri.
Atas dasar itu, Jassin berpandangan bahwa karya Hamka bukan plagiat atau jiplakan, karena Hamka tidak hanya menerjemahkan dan membubuhkan nama sendiri dalam terjemahan itu, melainkan ia menciptakan karya dengan seluruh kepribadiannya. Karena itu, “terlalu gegabah untuk menuduh Hamka plagiat seperti meneriaki tukang copet di Senen.”
Bagaimana sikap Hamka sendiri atas kasus yang menimpanya. Dalam majalah Gema Islam (1962) ia menulis: “Tjatji maki dan sumpah-serapah terhadap diri saja dengan mengemukakan tuduhan bahwa buku Tenggelamnja Kapal Van der Wijck jang saja karang 24 tahun jang lalu, adalah sebuah plagiat, atau djiplakan, atau hasil tjurian atau sebuah skandal besar, tidaklah akan dapat mentjapai maksud mereka untuk mendjatuhkan dan menghantjurkan saja. Dengan memaki-maki dan menjerang demikian persoalan belumlah selesai.”
Hamka akhirnya memang lebih banyak bersikap pasif. Ia menyatakan bahwa kalau ada orang yang menunggu-nunggu dirinya membalas segala serangan dan hinaan itu, maka mereka akan lelah menunggu karena ia tidak akan membalas. Yang ia tunggu, ujarnya, adalah terbentuknya satu Panitia Kesusastraan yang bersifat ilmiah, yang apabila Panitia tersebut memandang perlu untuk menanyainya, maka ia akan bersedia memberikan keterangan.
Pada tanggal 19 November 1962, Bintang Timur memuat pernyataan bahwa redaksi menerima larangan dari Peperda (Penguasa Perang Daerah) agar persoalan Hamka tidak dimuat lagi di lembar kebudayaan Lentera. Namun pro-kontra kasus itu sudah terlanjur membesar sehingga larangan dari Peperda itu seolah dianggap sepi. Polemik terus bergulir selama kurang lebih 3 tahun, sampai terjadinya peristiwa yang disebut G30S/PKI 1965 yang benar-benar mengubur kasus tersebut.
Sisi lain yang menarik dari karya Hamka ialah pelabelan sastra Islam padahal tidak satu pun ada petuah agama yang terkandung di dalamnya (secara eksplisit). Baik di dalam Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck maupun karya lainnya yang terkenal seperti Di Bawah Lindungah Kabah dan Merantau Ke Deli, sastrawan kelahiran Maninjau, Sumatera Barat, 17 Februari 1908, ini sangat piawai menyisipkan nilai-nilai keislaman secara implisit.
Merantau
Hal ini berbeda dengan para penulis karya islami yang banyak bermunculan akhir-akhir ini yang sangat gamblang menggunakan simbol-simbol Islam, bahkan mengutip ayat-ayat Quran atau hadis, sehingga karya novel hampir menyerupai kitab fikih. Pada Hamka, penyebutan kata Islam bisa dihitung dengan jari, alih-alih mengutip Quran. Hal ini menarik perhatian kritikus sastra Jakob Soemardjo. Ia menilai bahwa Hamka lebih mengutamakan substansi keislaman ketimbang pemaparan tentang hukum-hukum Islam secara eksplisit. “Hamka memasukkan nilai-nilai agama secara universal, sehingga umat di luar Islam juga tertarik untuk menikmatinya,” kata Guru Besar Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Bandung itu.10]
Mungkin karena sifatnya yang tidak verbalistik itulah maka karya-karya Hamka menjadi abadi. Sampai wafatnya pada 24 Juli 1981, Hamka akan terus dikenang sebagai pengarang yang berdedikasi pada kesusastraan di tanah air. Kabar terakhir yang menggembirakan ialah bahwa selain akan difilmkan, novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck juga sedang diterjemahkan ke dalam bahasa Arab dan akan diterbitkan di Mesir. Buku Hamka ini merupakan langkah awal penerjemahan buku-buku Indonesia ke dalam bahasa Arab.11]
Catatan
1. Sebagaimana dituturkan kolega Hamka yang juga wartawan dan penulis terkenal, M. Yunan Nasution, lihat: http://buyahamka.org/ mengenang-sastrawan-besar-hamka/
2. “Hamka Menggebrak Tradisi”, Tempo, 19 Mei 2008
3. Polemik mengenai kasus ini telah didokumentasikan, di antaranya dalam buku: Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck dalam Polemik, editor Junus Amir Hamzah dengan bantuan penuh HB Jassin (Jakarta: Mega Book Store, 1963); Aku Mendakwa Hamka Plagiat! Skandal Sastra Indonesia 1962-1964 oleh Muhidin M Dahlan (Yogyakarta: ScriPtaManent dan Merakesumba, 2011)
4. HB Jassin, Kesusastraan Indonesia Modern dalam Kritik dan Esei I (Jakarta: Gramedia, 1985), hal. 63
5. “Hamka Menggebrak Tradisi”, Tempo, 19 Mei 2008
6. Maman S. Mahayana, Ekstrinsikalitas Sastra Indonesia (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2007), hal. 168
7. “Hamka Menggebrak Tradisi”, Tempo, 19 Mei 2008
8. Maman S Mahayana, Oyon Sofyan, dan Ahmad Dian, Ringkasan dan Ulasan Novel Indonesia Modern (Jakarta: Grasindo, 1995), hal. 78–79
9. DS Moeljanto dan Taufiq Ismail, Prahara Budaya: Kilas Balik Ofensif Lekra/PKI Dkk (Jakarta: Mizan, 1995), hal. 40, catatan kaki no. 1
10. “Berdakwah Tanpa Mengajari”, Jurnal Nasional, 31 Agustus 2008
11. http://www.antaranews.com/berita/334814/novel-tenggelamnya-kapal-van-der-wijch-menyapa-pembaca-arab diakses pada 14 Juni 2013
Sabtu, Desember 28, 2013 | by Sidik Nuryusupiandi | | No comments

Perempuan datang atas nama cinta
Bunda pergi karena cinta
Digenangi air racun jingga adalah wajahmu
Seperti bulan lelap tidur dihatimu
Yang berdinding kelam dan kedinginan
Ada apa dengannya
Meninggalkan hati untuk dicaci
Baru sekali ini aku melihat karya surga dalam mata seorang hawa
Ada apa dengan cinta
Tapi aku pasti akan kembali
Dalam satu purnama
Untuk mempertanyakan kembali cintanya
Bukan untuknya
Bukan untuk siapa
Tapi untukku
Karena aku ingin kamu
Itu saja
Sabtu, Desember 28, 2013 | by Sidik Nuryusupiandi | | No comments
Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck (Soraya Intercine Films, 2013)It’s a classic love story. Berlatar belakang kisah di tahun 1930an, Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck dimulai dengan kedatangan seorang pemuda keturunan Minang asal Makassar, Zainuddin (Herjunot Ali), ke Batipuh, Tanah Datar, Sumatera Barat, dengan tujuan untuk mengenal tanah kelahiran ayahnya sekaligus memperdalam pengetahuan agamanya disana. Kedatangan Zainuddin sendiri tidaklah mendapat sambutan baik dari masyarakat desa tersebut karena sejarah keturunan Zainuddin – yang berasal dari ayah yang berdarah Minang namun seorang ibu yang berdarah Bugis sementara struktur masyarakat Minang mengatur alur keturunan dari pihak ibu – tidak lagi dianggap memiliki hubungan kekerabatan dengan keluarganya di Minangkabau. Meskipun begitu, Zainuddin meneguhkan hatinya untuk tetap tinggal di Batipuh, khususnya ketika ia telah mengenal seorang gadis cantik bernama Hayati (Pevita Pearce). Dengan segera, keduanya lantas saling jatuh cinta. Sayang, masalah asal-usul keturunan Zainuddin lagi-lagi menjadi penghalang kisah asmara mereka. Zainuddin bahkan terpaksa harus meninggalkan Batipuh karena hubungan tersebut dianggap tidak layak keberadaannya. Meskipun begitu, Zainuddin dan Hayati saling berjanji untuk tetap setia dan mencintai satu sama lain.
Janji setia keduanya kemudian mendapatkan cobaan paling besar ketika Hayati mendapatkan pinangan dari seorang pemuda keturunan Minang murni yang kaya raya, Azis (Reza Rahadian). Ditengah paksaan dari keluarganya, Hayati lantas menerima pinangan tersebut dan memutuskan tali kasihnya dengan Zainuddin. Zainuddin yang patah hati lantas memilih untuk meninggalkan tanah Minang dan berkelana ke Pulau Jawa. Usaha kerasnya untuk melupakan Hayati sekaligus mengejar peruntungannya berbuah hasil. Dengan bakatnya sebagai seorang penulis, Zainuddin berhasil mendapatkan ketenaran sekaligus kebahagiaan material. Sementara itu, garisan nasib antara Zainuddin dan Hayati ternyata tidak lantas berhenti begitu saja. Secara tidak sengaja, Zainuddin kembali bertemu dengan Hayati yang kini telah menjadi istri Azis. Seperti yang dapat diduga, gejolak cinta keduanya lantas mulai berkobar kembali.
Untuk mereka yang sama sekali belum pernah mengenal mengenai keberadaan Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, film ini diadaptasi dari sebuah novel berjudul sama karya Haji Abdul Karim Amrullah atau yang lebih populer dengan sebutan Buya Hamka. Kisah novel tersebut pertama kali dirilis dalam bentuk cerita bersambung pada tahun 1938 sebelum akhirnya diterbitkan dalam bentuk novel setahun kemudian. Meskipun mendapatkan banyak tudingan bahwa Buya Hamka melakukan plagiasi terhadap beberapa novel rilisan luar negeri, Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck yang berisi kritikan terhadap kondisi sosial masyarakat Minang tersebut tetap mampu meraih pujian luas dari kalangan kritikus sastra Indonesia dan dianggap sebagai karya terbaik Buya Hamka sekaligus telah menjadi bahan bacaan wajib bagi para pelajar di Indonesia.
Untuk versi filmnya sendiri, naskah cerita Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck digarap oleh Imam Tantowi (Ketika Cinta Bertasbih, 2009), Donny Dhirgantoro (5 cm, 2012), Riheam Junianti (308, 2013) serta sutradara film ini sendiri, Sunil Soraya (Apa Artinya Cinta, 2005). Beruntung, dengan kombinasi empat nama tersebut serta pengarahan Sunil Soraya yang cukup efektif, Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck mampu tampil dengan kualitas penceritaan yang jauh lebih baik daripada Di Bawah Lindungan Ka’bah (2011) yang juga merupakan hasil adaptasi dari novel tulisan Buya Hamka. Sebagai sebuah hasil adaptasi novel yang mengandung begitu banyak kritikan sosial di tengah-tengah kisah romansa yang begitu mengharu biru, naskah cerita Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck mampu merangkum keseluruhan esensi novel tersebut dan kemudian menterjemahkannya menjadi sebuah alur penceritaan yang padat dengan karakter-karakter yang berhasil dikembangkan dengan baik.
Kesuksesan Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck jelas juga tidak lepas dari kemampuan Sunil Soraya dalam memberikan ritme penceritaan yang sesuai dengan sebuah film yang memiliki begitu banyak plot cerita. Dalam durasi presentasi film sepanjang 163 menit, Sunil Soraya mampu menggarap setiap bagian penceritaan Tenggelamnya Kapal Van Der Wijckdengan begitu lancar, terus mengikuti fokus yang telah ditetapkan pada setiap kisah yang hadir dari tiap-tiap karakter sehingga akan berhasil memberikan ikatan emosional yang mendalam pada setiap penontonnya. Jauh dari kesan membosankan yang biasanya selalu menghantui film-film Indonesia berdurasi lebih dari 120 menit – we’re looking at you, Soekarno! “Inspirasi” yang diberikan oleh beberapa film Hollywood – let’s say Titanic (1997) and The Great Gatsby(2013) – pada tata cara penggarapan Sunil Soraya untuk beberapa adegan juga terbukti efektif dalam meningkatkan kualitas penceritaan film. Sunil Soraya tidak serta merta meniru namun berhasil memodifikasi dan memanfaatkannya untuk menjadikan Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck tampil lebih menarik.
Dipimpin oleh tiga penampilan dari Herjunot Ali, Pevita Pearce dan Reza Rahadian yang mampu menciptakan chemistryyang begitu erat satu sama lain, Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck juga hadir dengan kualitas departemen akting yang cukup solid. Seperti biasa, Reza Rahadian tampil tanpa cela. Ketika Herjunot Ali dan Pevita Pearce masih terlihat berusaha keras untuk menghidupkan karakter mereka, Reza Rahadian tampil dengan begitu mudah dalam memerankan sosok Azis. Pevita Pearce juga berhasil menunjukkan kemampuan aktingnya dengan baik. Meskipun karakter Hayati yang ia perankan masih terasa belum begitu matang pengembangannya, namun Pevita mampu menampilkan sosok gadis yang hidup pada era 1930an dengan problema pertentangan antara adat istiadat dan asmara hatinya dengan penampilan yang akan mampu menyayat hati. Namun, penampilan terkuat dalam Tenggelamnya Kapal Van Der Wijckjelas hadir dari Herjunot Ali. Herjunot berhasil memberikan sentuhan emosional yang cukup mendalam bagi karakternya, melafalkan dialog-dialog puitis yang diberikan pada karakternya dengan baik serta menjadikan karakter Zainuddin begitu mudah untuk mendapatkan simpati para penonton. Penampilan akting lain yang cukup memberikan kejutan hadir dari Randy Nidji yang meskipun baru melakukan debut aktingnya, namun berhasil memberikan penampilan yang begitu meyakinkan.
Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck juga hadir dengan kualitas tata produksi yang meyakinkan. Tata sinematografi arahan Yudi Datau berhasil memberikan deretan gambar yang begitu indah sekaligus nyaman untuk dilihat. Tata artistik film ini juga berada dalam tingkatan yang begitu berkelas dalam menciptakan atmosfer penceritaan yang berlatar belakang di tahun 1930an. Begitu pula dengan tata musik arahan Stevesmith Music Production yang tidak hanya mampu memberikan tambahan elemen emosional pada banyak bagian cerita namun juga berhasil menyajikannya secara tidak berlebihan. Meskipun begitu, Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck bukannya hadir tanpa cela. Aksen daerah yang dilafalkan oleh beberapa pemeran seringkali masih terasa goyah. Pada tampilan visual, Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck beberapa kali hadir dengan nada pewarnaan pucat yang terasa tidak alami dan cukup mengganggu. Penggunaan efek visual pada beberapa adegan juga masih terasa kasar meskipun masih jauh lebih baik dari penggunaan efek visual di beberapa film Indonesia lainnya. Penempatan beberapa lagu yang dinyanyikan oleh Nidji pada banyak bagian film juga seringkali terasa kurang esensial dengan Sunil Soraya seperti berusaha terlalu keras untuk menjadikan lagu Sumpah dan Cinta Matiku menjadi Young and Beautiful bagi Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck. Tidak berhasil, sayangnya. Kekurangan-kekurangan tersebut, untungnya, adalah barisan kekurangan minor jika dibandingkan apa yang berhasil dicapai Sunil Soraya lewat kualitas keseluruhan dari Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck.
Meskipun sama sekali bukanlah sebuah presentasi yang sempurna, Sunil Soraya berhasil memberikan sentuhan terbaik pada Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck yang merupakan hasil adaptasi dari novel legendaris Indonesia berjudul sama karya Buya Hamka. Didukung dengan naskah cerita yang secara padat dan kuat berhasil merangkum versi novel dari film ini – meskipun beberapa bagian tetap saja dapat dihilangkan guna meringkas jalan penceritaan, Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck tampil begitu lancar dalam bercerita sehingga mampu menghasilkan banyak momen yang mengharu biru dari kisah cinta yang dihadirkannya. Didukung dengan penampilan yang solid dari departemen akting serta kualitas tata produksi yang meyakinkan, Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck adalah sebuah film epik romansa berkelas sekaligus emosional yang begitu sulit ditemukan (atau dicapai?) pada film-film Indonesia dalam beberapa tahun terakhir.
Directed by Sunil Soraya Produced by Sunil Soraya, Ram SorayaWritten by Imam Tantowi, Donny Dhirgantoro, Riheam Junianti, Sunil Soraya (screenplay), Buya Hamka (novelTenggelamnya Kapal Van Der WijckStarring Herjunot Ali, Pevita Pearce, Reza Rahadian, Randy Nidji, Gesya Shandy, Arzetti Bilbina, Kevin Andrean, Jajang C Noer, Niniek L. Karim, Femmy Prety, Dewi Agustin, Rangga Djoned, Fanny Bauty Music by Stevesmith Music Production Cinematography by Yudi Datau Editing by Sastha Sunu Studio Soraya Intercine Films Running time 163 minutes Country Indonesia Language IndonesianTenggelamnya Kapal Van Der Wijck (Drama | Romance, 2013)
Sabtu, Desember 28, 2013 | by Sidik Nuryusupiandi | | 1 comment
Dirilis dengan publikasi dan promosi yang minimalis, film terbaru karya sutradara Garin Nugroho, Mata Tertutup, ternyata mampu memiliki sudut pandang cerita tentang kondisi struktur sosial dan relijius masyarakat Indonesia lebih maksimal daripada kebanyakan film bertema sama yang beberapa kali dirilis oleh industri film Indonesia akhir-akhir ini. Dengan penyampaian cerita yang lebih dinamis daripada kebanyakan film-film karya Garin Nugroho sebelumnya – walau hal tersebut tidak murni berarti bahwa film ini akan dengan mudah dapat dinikmati oleh penonton dalam skala yang lebih luas – Mata Tertutup berjalan secara perlahan dalam membangun struktur ceritanya. Pun begitu, dengan dukungan tata teknis dan kemampuan akting jajaran pemerannya yang begitu solid, Mata Tertutup akan mampu menarik hati, jiwa dan pemikiran setiap penontonnya secara mendalam kepada tiga alur cerita yang dihadirkan Garin di dalam film ini.
Mata Tertutup dibuka dengan adegan doktrinisasi yang dilakukan terhadap seorang gadis bernama Rima (Eka Nusa Pertiwi) oleh para anggota kelompok fundamentalis Islam yang menamakan dirinya Negara Islam Indonesia. Semenjak lama telah terombang-ambing dengan berbagai pemikiran mengapa pemerintahan negara Republik Indonesia seperti begitu mengacuhkan kesejahteraan anggota masyarakatnya, khususnya para kaum perempuan, Rima kemudian mendapatkan pengetahuan mendalam bahwa NII berencana membentuk sebuah pemerintahan baru yang akan mengayomi seluruh masyarakatnya dengan lebih baik. Secara perlahan, rasa simpatik Rima terhadap NII tumbuh semakin besar. Rima kemudian berkembang menjadi simpatisan NII dan turut membantu perekrutan puluhan anggota NII yang baru.
Di belahan cerita lain, penonton akan bertemu dengan Jabir (M Dinu Imansyah), seorang anak pesantren yang terpaksa menghentikan pendidikannya karena kedua orangtuanya telah tidak sanggup lagi untuk membiayainya. Perjalanan waktu, dan kondisi ekonomi dan sosialnya, kemudian membawanya berkenalan dan terjerumus dalam sebuah kelompok pengajian yang memiliki ajaran yang lebih ekstrem daripada kebanyakan pengajaran agama yang sebenarnya. Penonton juga akan dikenalkan dengan Asimah (Jajang C Noer), seorang orangtua tunggal yang sedang kebingungan akibat puterinya yang tidak kunjung pulang ke kediamannya. Asimah kemudian mendapatkan informasi bahwa puterinya telah direkrut untuk menjadi simpatisan NII. Tidak ingin kehilangan puterinya begitu saja, Asimah kemudian memulai perjalanannya untuk mencari keberadaan puteri semata wayangnya.
Mereka yang semenjak lama telah mengikuti karir penyutradaraan Garin Nugroho tentu akan dengan mudah untuk melabeli setiap karya Garin sebagai deretan cerita yang memiliki berjuta arti mengingat selipan simbol maupun metafora yang diletakkan Garin dalam visualisasi maupun dialog jalan ceritanya. Namun tidak begitu dengan Mata Tertutup. Garin memang masih menyampaikan jalan ceritanya dengan tempo yang begitu sederhana dan bertahap – yang jelas akan membuat beberapa bagian penonton merasa terasingkan – namun Mata Tertutup hadir dengan jalan cerita yang sederhana, lugas dan tanpa simbol maupun metafora yang rumit. Pun begitu, Mata Tertutup sendiri tetap tampil tegas dalam penyampaian kisahnya yang provokatif. Berbagai kritikan sosial yang cukup kuat secara cerdas tanpa pernah terasa terlalu menggebu-gebu maupun pretensius.
Kekuatan terbesar Mata Tertutup justru datang dari penampilan para pengisi departemen aktingnya. Selain Jajang C Noer, departemen akting Mata Tertutup memang diisi oleh nama-nama yang mungkin masih jarang terdengar oleh publik penikmat film Indonesia. Namun, jangan pernah sekalipun meragukan penampilan akting yang mereka hadirkan di film ini. Penampilan akting jajaran pemeran Mata Tertutup tampil begitu kuat dalam menghidupkan setiap karakter yang hadir dalam jalan cerita film ini sehingga mampu mengeluarkan sisi emosional dari jalan cerita yang kadang terasa begitu hambar. Sentuhan berkelas lainnya juga datang dari tata musik arahan Dwiki Darmawan yang berhasil muncul dengan pengaruh emosional yang begitu kuat pada banyak bagian cerita sekaligus tampil begitu elegan dengan sentuhan musik etnik yang dibawakan.
Cara penyampaian kisah yang dilakukan secara bertahap mungkin akan mengalienasi beberapa penonton sekaligus memberikan jarak yang cukup luas bagi penonton untuk mampu merasakan pengaruh emosional langsung dari jalan cerita yang sebenarnya hendak disampaikan oleh Garin Nugroho. Pun begitu, tidak dapat disangkal, perjalanan yang terjalin begitu perlahan tersebut seakan memberikan kesempatan bagi penonton untuk dapat menyerap berbagai pesan yang dialirkan Garin dan membuat mereka tersadar bahwa apa yang mereka saksikan merupakan sebuah potret telanjang dari apa yang sebenarnya sedang terjadi di sekitar mereka – walau seringkali terabaikan. Didukung denga penampilan departemen akting yang begitu kuat serta tata produksi yang sangat meyakinkan, Mata Tertutup adalah satu dari sangat sedikit sajian yang dapat ditawarkan oleh industri film Indonesia yang akan mampu memberikan bekas yang begitu mendalam kepada jalan pemikiran para penontonnya. Powerful stuff indeed.

Directed by 
Garin Nugroho Produced by Asaf Antariksa, Endang Tirtana Written by Tri Sasongko Starring Jajang C Noer, M Dinu Imansyah, Eka Nusa Pertiwi, Andryani Isna, Rijal Maj, Yoga Bagus Satatagama, Tri Sasongko, Dyah Arum, Ign Wahono, Kedung Darma R, Taslim Idrus, Nanang Rakhmat Hidayat, Yesi Yoane, Kukuh Riyadi Music by Dwiki Darmawan Cinematography Anggi Frisca Editing by Beck, Arturo GP Studio SET Film/Maarif Production Running time 102 minutes Country Indonesia Language IndonesianMata Tertutup (2012)